Catatan Kecil

Hanya sebuah blog sederhana untuk sekedar menumpahkan cerita sehari – hari


Tinggalkan komentar

Sudah lama

sudah lama tak pernah lagi mencoba

menggores cakrawala

dalam bentangan khayalan

tapi aku..

masih tetap disini

dengan imaji dan keinginanku

seharusnya tak kutunggu

tapi harus kukejar

karena tak akan pernah terulang lagi

kesempatan itu

ide-ide yang sudah menumpuk

dalam fikirku

telah kubiarkan menguap

tanpa jejak

aku ingin menulis lagi sayang…

Iklan


Tinggalkan komentar

Memorabilia

Wajahnya yang tak pernah bosan kupandang, senyumnya yang selalu menghangatkan hati dan candanya yang selalu kunanti. Mamah. begitulah aku memanggilnya. Seseorang yang selalu memahami ketika aku gelisah, bingung, tak punya arah bahkan dalam kondisi sedih sekalipun. Tak pernah keluar kata-kata yang memadamkan semangatku, dialah motivator hidupku, inspirasi yang tak bertepi.

Selalu memberikan yang teristimewa untuk kami sebagai anaknya, sikap lembutnya memancarkan bahwa kami adalah anugerah terindah yang pernah dimilikinya. Kasih, cinta, perhatian dan belaiannya tak pernah digantikan oleh orang lain yang sebenarnya sudah banyak terjadi di kalangan orang-orang yang sibuk dan tak memiliki banyak waktu sekedar untuk memperhatikan buah hati mereka. Tapi tidak begitu dengannya, meski sebenarnya dia sesosok yang juga menjadi bagian penopang ekonomi keluarga, tetap posisinya sebagai Ibu dalam keluarga, karena memang seperti itulah adanya.Yang masih selalu bersedia mengambilkan minum utuk Bapak, menyiapkan makanan dan pakaiannya untuk hari yang akan dilewati Bapak, meskipun kadang kulihat raut wajah yang lelah ketika melakukan itu tapi tetap dilakukannya dan seperti itulah adanya.

Jiwanya yang sensitif dan sikapnya yang loyal juga ramah terhadap semua orang menjadikannya pribadi yang mudah dikenal di sekitarnya. Yang paling kuingat ketika dia berbicara padaku “Kita bisa menolong orang lain tidak hanya dengan materi saja, tetapi ilmu yang kita miliki juga bisa membantu orang lain dalam berbuat kebaikan, insyaallah”. Mungkin karena itulah sekarang dia berbagi apa yang dimiliki dengan orang-orang dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu tua bahkan sampai anak-anak kecil sekalipun. Dalam seminggu, beberapa hari dia sediakan waktu untuk mengajarkan bacaan shalat dan Al-Quran kepada mereka yang belum bisa mengaji dan hafal bacaan shalat. Sehari dia mengikuti pengajian bersama ibu-ibu lainnya dan sebagian dalam seminggu itu dia gunakan untuk mengajar anak-anak tetangga membaca, berhitung dan mengaji Iqra. Dengan tulus dan ikhlas. Kalaupun ada orang yang memberinya uang, dia selalu berkata “Alhamdulillah rezeki hari ini dapet bonus lebih”. Dan aku selalu tersenyum bahagia mendengarnya, karena pasti aku yang akan menikmatinya. Ah, mamah yang selalu kucinta.

Sikapnnya yang tak pernah kulupakan adalah dia tidak pernah menyuruhku melakukan sesuatu jika aku sedang sibuk dengan urusanku. “Teteh udah selesai nulisnya ?”, pertanyaan itulah yang diajukannya jika aku sedang berada di depan komputer dan dia bermaksud menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Aku malu pada diri sendiri karena sikapnya itu. Sehingga tak berani aku berkata “tidak” dan menyegerakan apa yang dimintanya untuk dilakukan.

Dialah yang menjadi bagian contoh dalam hidupku. Menjadi perempuan yang mampu menempatkan diri dimananpun, bisa melakukan banyak hal, perhatian terhadap anak, selalu bersedia melakukan banyak hal meski kondisi lelah sekalipun, karena demi kewajiban yang harus dilakukannya.

Mungkin dia adalah satu dari sekian ribu perempuan yang selalu berjuang untuk memberi nafas pada anak-anak mereka. Agar anak mereka mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, meski dia harus kekurangan, menggendong mereka ketika anak mereka belum bisa berjalan, meski pundaknya harus merasakan pegal berhari-hari, mengenyam pendidikan yang tinggi meski dia harus bertahun-tahun menggunakan baju yang sama hingga lusuh, yang penting anak mereka bisa merasakan bangku pendidikan, bagi mereka itu sudah cukup. Tak pernah meminta balasan materi ketika anak mereka yang dewasa telah sukses. Hanya berharap kasih, cinta dan perhatian dari anaknya lah ketika mereka tak mampu lagi untuk berjalan tegap dan menghabiskan masa-masa tua mereka. Perempuan-perempuan yang mampu melahirkan generasi penerus bangsa dan hanya merekalah pendidik yang penuh dengan dedikasi.


Tinggalkan komentar

Selamat Ulang Tahun Bapak Sayang,,,

Hhhmmm,,,

Hari ini Bapakku yang ganteng Ulang Tahun

katanya yang ke 19,,,eh salah denk ! yang ke 49 lho,,,

Alhamdulillah,,,masih diberi kesempatan untuk kita tetap bersama2 dalam ikatan ukhuwah yang erat

meski kita saling berjauhan

terimakasih ya Allah,,,

Kalo mengingat tentang Bapak

pasti selalu ada rasa rindu yang muncul dan sangat sesak

karena sangat rindu,,,

Aku rindu,,,

Bapak yang selalu setia mengajakku ngobrol tentang berbagai hal

mendiskusikan hal2 yang kita lihat bersama dari sudut pandang masing2

yang selalu memberikan penjelasan yang gamblang

tentang hal2 yang aku tanyakan padanya

apapun “tema”nya

Aku belajar,,,

darinya tentang banyak hal

Belajar untuk selalu tetap memberi meski kita dalam kondisi kurang sekalipun

Belajar untuk berani dalam mengambil risiko dari setiap keputusan

Belajar menghadapi kenyataan yang terkadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan

Belajar untuk bisa berani dan mandiri

Belajar untuk tetap sabar dalam menghadapi jatuh bangun dalam kehidupan

Tapi aku baru belajar,,,belum bisa sepenuhnya seperti itu

Aku teringat,,,

Bapak yang selalu tak mau ketinggalan jika

terlihat aku sedang ngobrol dengan mamah (pasti ikut nimbrung,,,)

Bapak yang hanya tersenyum  “cuek”  jika sedang digoda oleh mamah (lucu,,,)

Bapak yang selalu membangunkanku jika shalat subuh tiba

dengan mengusap2 punggungku (hhmm,,,)

Bapak yang terkadang rada2 “nyeleneh” tapi mengasyikkan (seruuu,,,)

Bapak yang semakin tegap dan gagah (teteeeppp,,,)

Pokoknya,,,

Kalo kata Ebiet G Ade “Titip Rindu Buat Ayah”

Kalo aku bilang “Allah,,,Titip Rindu Buat Bapakku Sayang yaaaa,,,,”

Tolong sampein ucapan “SELAMAT ULANG TAHUN yang Ke-49”

Pokoknya aku selalu berdo’a semoga Bapak bergelar MMA

Makin Mantep Aje,,,,

Terima kasih Allah,,,

Dari Ratu Rhamatunnisa Tea

buat Bapak Tersayang

^_^


2 Komentar

Dua Pasien

Dua orang pria, sama-sama tengah menderita sakit parah, menempati sebuah kamar di suatu rumah sakit.
Setiap sore satu diantaranya diizinkan bangun dari tempat tidurnya, sekitar satu jam, untuk membantu mengeringkan cairan dalam paru-parunya.

Tempat tidurnya memang berada di bawah satu-satunya jendela di kamar itu.

Sementara pria tetangganya hanya bisa berbaring di tempat tidurnya sepanjang hari.
Kedua orang itu larut dalam obrolan sepanjang waktu. Mereka berbicara tentang istri, keluarga, rumah, pekerjaan dan keterlibatan mereka dulu dalam kegiatan wajib militer.
Setiap sore, ketika pria yang terbaring dekat jendela mendapat kesempatan duduk, ia menceritakan pada tetangganya segala hal yang dapat ia saksikan di balik jendela.
Pria tetangganya senantiasa mulai merasakan hidup, sepanjang setiap satu jam itu, dunianya kembali melebar dan bergairah karena kisah dan warna-warni kehidupan di luar.
Di balik jendela terbentang taman dengan danau yang indah.
Bebek dan angsa berenang-renang disana, sementara anak-anak bermain kapal-kapalan.
Pasangan kekasih berjalan bergandengan diantara warna-warni pelangi mahkota bunga-bungaan.
Pepohonan tua dan besar mempercantik pemandangan dan barisan gedung-gedung pencakar langit tampak dikejauhan.
Satu sore yang cerah pria itu menceritakan satu arak-arakan karnaval yang tengah lewat.
Meskipun tetangganya tak dapat mendengarkan drum band dalam karnaval itu, ia dapat menyaksikannya lewat mata batinnnya, ketika pria di dekat jendela menuturkannya dengan kata-kata.
Hari demi hari , minggu demi minggu terlewat.
Pada suatu pagi, ketika perawat jaga hari itu masuk ke kamar pasien dengan membawa air untuk memandikan mereka, yang ia temukan hanyalah sesosok tubuh pria tak bernyawa terbaring di dekat jendela. Rupanya ia telah meninggal dengan tenang dalam tidurnya.
Betapa terkejutnya si perawat. Dipanggilnya petugas untuk memindahkan mayat tersebut.
Beberapa saat kemudian, ketika suasana kembali seperti sediakala, pria yang satunya minta pihak rumah sakit memindahkannya ke tempat tidur di dekat jendela itu. Tentu, perawat dengan senang hati memenuhi permintaannya. Dan setelah memastikan pasiennya merasa nnyaman, ia meninggalkan kamar tersebut.
Dengan bersusah  payah dan menahan rasa sakit luar biasa, pria itu mencoba menopang tubuhnya dengan sebelah sikunya. Ia, untuk pertama kalinya mencoba memandang ke luar jendela.
Akhirnya ia berhasil menyaksikan sendiri dengan mata kepala.
Ia tertegun menyaksikan pemandangan di balik jendela di sebelah tempat tidurnnya itu. Jendela itu ternyata menghadap tembok kosong.
Pria itupun bertanya kepada sang perawat : apa yang sekiranya mendorong pasien tetangganya yang kini telah tiada itu menuturkan kisah-kisah yang begitu indah di balik jendela itu.
Perawat itu menjawab bahwa pria itu adalah seorang buta dan karenanya bahkan tak mungkin dapat melihat dinding itu. Ia menambahkan jawaban, “barangkali ia cuma ingin memberimu semangat”.
Sungguh ada kebahagiaan tiada terkira dari membuat orang lain berbahagia, bagaimanapun keadaan kita sendiri. Keluhan yang dikatakan pada orang lain adalah setengah dari penderitaan itu sendiri, tapi kebahagiaan kala dibagikan, akan berlipat dua.
Kalau anda ingin merasa kaya, hitunglah segala hal yang kau miliki yang tak terbeli oleh uang.
Hari ini adalah anugerah, itu sebabnya ia disebut (dlm bahasa Inggris) “present” (hadiah)
***
So,,,bagaimana kabar hari ini ??? semoga selalu dalam keadaan baik dan menjadi bagian dari anugerah terindah yang pernah dimiliki,,amin.
Rr.
Bebagai sumber


Tinggalkan komentar

Senyum mu

senyum itu

membuatku merasa

semakin merindumu

dari dekat kerut senyummu

membuatku malu pada diri sendiri

betapa aku selalu

membuatmu lelah,was-was,berkeringat dingin

bahkan mungkin tak bisa tidur

aku mengerti itu

tapi aku tak bisa berbuat

hanya bisa menangis

untuk diri sendiri

terimakasih atas segalanya

mamah,,,,


Tinggalkan komentar

Egoisakah aku ?

salahkah jika aku meminta waktuku untuk sendiri ?
kenapa selalu saja menuntutku untuk seperti itu ?

untuk selalu mendengarmu, menemanimu ngobrol atau
hal-hal lain yang sebenarnya cukup menyita waktuku

tidak bisakah aku meminta waktuku untuk diriku sendiri ?

saat ini aku butuh sendiri, buruh istirahat, karena hari ini aku lelah
tidakkah kau mengerti aku juga sepertimu ?

yang sering merasa lelah, cape, penat seperti keluh kesahmu
yang kau sampaikan padaku saat kau merasa seperti itu

bisakah kau tidak bersikap seperti itu padaku ?

sikapmu yang baik itu tak menyimpan kepalsuan sedikitpun
tapi aku merasa ada yang lain

ketidaktulusan kah ?. bukan. bukan itu,
tapi seperti sebuah tuntutan

tapi benarkah itu sebuah tuntutan ?. aku tak tahu.
kupikir hanya kamu yang tahu

teman, egoiskah aku jika saat ini aku tak mendengarmu ?


Tinggalkan komentar

Dirimu, Aku dan Mereka

aku tidak marah pada keadaan

aku tidak merasa tersakiti oleh keadaan

aku hanya sedikit kesal padamu

yang tiba-tiba datang dan pergi

bahkan menghilang dariku

seolah-olah kau takut padaku

takut aku merengek padamu

takut aku menuntutmu dengan halus

bukan itu maksudku

aku hanya ingin kau membantu mereka

itu saja, tidak lebih

tak usah kau repot denganku

biarkan aku disini

dengan duniaku

hanya satu saja yang ku harap darimu

bantu mereka

dan tak perlu kau tengok aku

cukup,,,

karena aku tak mampu untuk melakukannya