Wajahnya yang tak pernah bosan kupandang, senyumnya yang selalu menghangatkan hati dan candanya yang selalu kunanti. Mamah. begitulah aku memanggilnya. Seseorang yang selalu memahami ketika aku gelisah, bingung, tak punya arah bahkan dalam kondisi sedih sekalipun. Tak pernah keluar kata-kata yang memadamkan semangatku, dialah motivator hidupku, inspirasi yang tak bertepi.
Selalu memberikan yang teristimewa untuk kami sebagai anaknya, sikap lembutnya memancarkan bahwa kami adalah anugerah terindah yang pernah dimilikinya. Kasih, cinta, perhatian dan belaiannya tak pernah digantikan oleh orang lain yang sebenarnya sudah banyak terjadi di kalangan orang-orang yang sibuk dan tak memiliki banyak waktu sekedar untuk memperhatikan buah hati mereka. Tapi tidak begitu dengannya, meski sebenarnya dia sesosok yang juga menjadi bagian penopang ekonomi keluarga, tetap posisinya sebagai Ibu dalam keluarga, karena memang seperti itulah adanya.Yang masih selalu bersedia mengambilkan minum utuk Bapak, menyiapkan makanan dan pakaiannya untuk hari yang akan dilewati Bapak, meskipun kadang kulihat raut wajah yang lelah ketika melakukan itu tapi tetap dilakukannya dan seperti itulah adanya.
Jiwanya yang sensitif dan sikapnya yang loyal juga ramah terhadap semua orang menjadikannya pribadi yang mudah dikenal di sekitarnya. Yang paling kuingat ketika dia berbicara padaku “Kita bisa menolong orang lain tidak hanya dengan materi saja, tetapi ilmu yang kita miliki juga bisa membantu orang lain dalam berbuat kebaikan, insyaallah”. Mungkin karena itulah sekarang dia berbagi apa yang dimiliki dengan orang-orang dari berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu tua bahkan sampai anak-anak kecil sekalipun. Dalam seminggu, beberapa hari dia sediakan waktu untuk mengajarkan bacaan shalat dan Al-Quran kepada mereka yang belum bisa mengaji dan hafal bacaan shalat. Sehari dia mengikuti pengajian bersama ibu-ibu lainnya dan sebagian dalam seminggu itu dia gunakan untuk mengajar anak-anak tetangga membaca, berhitung dan mengaji Iqra. Dengan tulus dan ikhlas. Kalaupun ada orang yang memberinya uang, dia selalu berkata “Alhamdulillah rezeki hari ini dapet bonus lebih”. Dan aku selalu tersenyum bahagia mendengarnya, karena pasti aku yang akan menikmatinya. Ah, mamah yang selalu kucinta.
Sikapnnya yang tak pernah kulupakan adalah dia tidak pernah menyuruhku melakukan sesuatu jika aku sedang sibuk dengan urusanku. “Teteh udah selesai nulisnya ?”, pertanyaan itulah yang diajukannya jika aku sedang berada di depan komputer dan dia bermaksud menyuruhku untuk melakukan sesuatu. Aku malu pada diri sendiri karena sikapnya itu. Sehingga tak berani aku berkata “tidak” dan menyegerakan apa yang dimintanya untuk dilakukan.
Dialah yang menjadi bagian contoh dalam hidupku. Menjadi perempuan yang mampu menempatkan diri dimananpun, bisa melakukan banyak hal, perhatian terhadap anak, selalu bersedia melakukan banyak hal meski kondisi lelah sekalipun, karena demi kewajiban yang harus dilakukannya.
Mungkin dia adalah satu dari sekian ribu perempuan yang selalu berjuang untuk memberi nafas pada anak-anak mereka. Agar anak mereka mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, meski dia harus kekurangan, menggendong mereka ketika anak mereka belum bisa berjalan, meski pundaknya harus merasakan pegal berhari-hari, mengenyam pendidikan yang tinggi meski dia harus bertahun-tahun menggunakan baju yang sama hingga lusuh, yang penting anak mereka bisa merasakan bangku pendidikan, bagi mereka itu sudah cukup. Tak pernah meminta balasan materi ketika anak mereka yang dewasa telah sukses. Hanya berharap kasih, cinta dan perhatian dari anaknya lah ketika mereka tak mampu lagi untuk berjalan tegap dan menghabiskan masa-masa tua mereka. Perempuan-perempuan yang mampu melahirkan generasi penerus bangsa dan hanya merekalah pendidik yang penuh dengan dedikasi.